Wednesday, 25 March 2015

Bayangan Punggung (背影)

背影


Aku dan Ayah sudah lebih dari 2 tahun tidak bertemu dan hal yang tidak dapat kulupakan adalah bayangan punggung Ayah. Musim dingin tahun itu, nenekku meninggal, Ayah pun dipecat dari pekerjaannya, sungguh hari yang buruk. Aku meninggalkan Beijing dan kembali ke Xuzhou untuk mendampingi Ayah di pemakaman nenek. Sesampainya di Xuzhou dan bertemu Ayah, hatiku merasa kacau. Betapa aku sangat merindukan nenek dan aku tak hentinya menangis. Ayah pun berkata, “Relakan hal yang sudah terjadi, Nak! Tidak perlu sedih, Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya terpuruk, ketika kita mulai menemui suatu harapan, saat itulah Tuhan akan memberikan jalan keluar.”
Demi membayar hutang, Ayah menggadaikan rumah dan meminjam uang untuk keperluan pemakaman. Hari itu, rumah terasa sangat suram. Mungkin karena masa berduka, dan juga pemecatan Ayah. Setelah pemakaman berakhir, Ayah pergi ke Nanjing untuk mencari pekerjaan dan aku kembali ke Beijing untuk melanjutkan sekolah, kami pun menjadi teman seperjalanan.

Di Nanjing, kami menghabiskan waktu seharian untuk bertemu dengan kawan lama. Pagi berikutnya, kami menyebrangi sungai hingga ke Pukou, dan sore harinya aku akan naik kereta menuju ke Utara. Ayah awalnya berkata tidak bisa mengantarku karena sibuk, dan berulang kali meminta bantuan seorang pelayan hotel untuk mengantarku ke stasiun. Tapi Ayah masih sangat khawatir, dan meragukan si pelayan. Sebenarnya, saat itu aku sudah berusia 20 tahun dan sudah 2-3 kali bepergian ke Beijing, jadi sebetulnya ini bukanlah hal yang penting. Ayah berpikir sejenak hingga akhirnya memutuskan untuk mengantarkanku pergi. Meskipun sudah berkali kali ku sarankan untuk tidak perlu mengantar, Ayah tetap bersikeras dan berkata, “Jangan membantah, mereka tidak akan bisa mengantarmu dengan baik!”

Saat aku membeli tiket di stasiun, Ayah sibuk tawar menawar dengan seorang porter untuk membantuku membawa koper–koperku yang sangat banyak. Padahal aku bisa mengurus diriku sendiri, tapi aku hanya melihat Ayahku melakukan tawar menawar itu sendiri karena merasa lucu. Akhirnya, ayah mengantarku sampai di depan gerbong kereta. Ayah memberikanku uang dan Aku memberikan sebuah mantel wol berwarna ungu buatanku sendiri untuk Ayah.

Aku berkata pada Ayah, “Ayah, pergilah.”
Lalu Ayah berkata, “Ayah pergi membeli jeruk dulu, kamu jangan kemana–mana.”

Melihat bayangan punggung Ayahku saat itu, air mataku tidak tertahankan. Aku langsung menyeka air mataku karena takut Ayah melihatku menangis. Setelah memberikan jeruk yang dibelinya, Ayah bersikeras untuk menunggu sampai keretaku berangkat, tapi aku berhasil meyakinkannya. Ayah pun berkata, “Kalau begitu, Ayah pergi sekarang. Jangan lupa kirim surat jika sudah tiba di sana!” Ayah pun pergi sambil sekali–kali menoleh ke arahku. “Cepat masuk,” ujarnya. Bayangan Ayah pun perlahan menghilang, dan tanpa sadar, air mata kembali jatuh di pipiku.

Setibanya aku di Beijing, tidak ada waktu untuk membaca surat–surat yang dikirim Ayah. Dua tahun pun berlalu dan aku tidak lagi menerima surat dari Ayahku. Aku merasa ada yang janggal, dan menelepon kantor pos untuk memastikan, dan memang tidak ada surat kiriman Ayah untukku. Aku mulai khawatir dan langsung menghubungi teman lama Ayah di Nanjing. Orang itu berkata, “Apakah kamu tidak tahu bahwa Ayahmu sudah meninggal?”

Mendengar ucapannya, aku merasa duniaku runtuh. Sekembalinya aku ke asrama, aku mencari surat terakhir yang Ayah kirim padaku dan membacanya. Dalam surat itu Ayah berkata, “Tubuhku baik–baik saja, tapi lenganku sangat sakit. Untuk mengangkat sumpitpun aku tidak mampu. Kurasa, memang waktuku tidak lama lagi.” Setelah membaca, aku merasa sangat menyesal. Sekarang, aku tidak akan bisa melihat bayangan punggungnya lagi meskipun aku sangat menginginkannya.

Netter Yang Bijaksana,

Kisah di atas diambil dari sebuah prosa terkenal Tiongkok yang ditulis oleh penulis terkenal Zhu Ziqing pada tahun 1927 dan menjadi karya yang mewakili prosa-prosa pada masa pergerakan perbaharuan nasional di Tiongkok yang dimulai pada tahun 1919. Zhu Ziqing menulis prosa tersebut sesuai dengan apa yang ia lihat dan terjadi di sekelilingnya. Kisah "Bayangan Punggung" ini mengajarkan pada kita tentang cinta seorang ayah terhadap anaknya tanpa mempedulikan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Filed Under :

0 comments for "Bayangan Punggung (背影)"

Post a Comment

background